Hasilpenelitian menunjukkan bahwa : (1) Majelis ta'lim yang ada di Desa Depok sudah berperan dengan baik dalam menunjang pembinaan moral anak, hal ini dapat terlihat dari kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan majelis ta'lim, yaitu diantaranya : a) Pembinaan moral anak di majelis ta'lim, b) Pembinaan terhadap masyarakat, c) Himbauan
Doa penutup majelis – Majelis dalam bahasa Arab, bentuk kata tempat yang berarti kata dasar jika digabungkan dengan kata ta’lim, majelis ta’lim yang berarti tempat bisa diartikan dengan tempat pendidikan, keagamaan, nonformal, sekolah formal, pengajian ataupun umum tujuan majelis itu sendiri adalah sebagai tempat belajar atau mengajar, untuk menerapkan suatu akhlak yang mulia dan membimbing atau mengajarkan sebuah Doa Penutup Majelis Dan Adab Ketika Berada Di Dalam Majelis Doa Penutup Hadist Doa Penutup Majelis2 Doa Penutup Majelis Doa “Allohummarham Na Bil Qur’an” Doa “Robbinfa’na Bi Ma Allamtana”3 Adab Ketika Berada Di Dalam Majelis Mengucapkan/Memberi Salam Kepada Orang Yang Ada Di Dalam Majelis Ilmu, Baik Ketika Masuk Maupun Ketika Tidak Berbisik-Bisik Berduaan Dengan Meninggalkan Orang Ketiga, Sehingga Menimbulkan Prasangka Buruk Untuk Orang Duduklah Di Tempat Yang Masih Jangan Mengusir/Memindahkan Orang Lain Dari Tempat Duduknya, Tapi Berlapanglah Di Dalam Majelis Tidak Banyak Tertawa Ketika Berada Di Dalam Majelis Ilmu, Apalagi Dengan Suara Yang Sangat Keras Atau Jangan Duduk Atau Berdiam Diri Di Tengah-Tengah Halaqah Lingkaran Majelis Dan Jangan Duduk Di Antara Dua Orang Yang Sedang Duduk, Kecuali Dengan Seizin Jangan Menempati Tempat Duduk Orang Lain Yang Sedang Keluar Hanya Untuk Sementara Jangan Melakukan Sesuatu Yang Merusak Perasaan Orang Lain Dan Jangan Memata-Matai Orang Lain Sehingga Mengganggu Kenyamanan Orang Selalu Menjaga Pembicaraan Ketika Berada Di Dalam Membaca Doa Penutup Majelis Atau Doa Kaffaratul TerkaitDoa Penutup Majelis Dan Adab Ketika Berada Di Dalam Majelis IlmuDoa penutup majelis atau biasa disebut dengan doa kaffaratul majelis adalah doa yang dipanjatkan untuk mengakhiri atau ketika selesai suatu kegiatan mengaji atau pengajian atau juga belajar dan mencari penutup majelis sendiri biasanya sudah banyak diajarkan kepada kita dari kecil, baik dirumah maupun di sekolah-sekolah keagamaan atau majelis ta’ seperti apa sih doa penutup majelis atau doa kaffaratul majelis itu Penutup MajelisSeperti yang sudah banyak dijelaskan, dalam agama Islam kita selalu dianjurkan berdoa terlebih dahulu dalam memulai atau mengakhiri sebuah agar kegiatan yang kita lakukan tersebut mendapatkan keberkahan dari Allah SWT dan bisa bermanfaat khususnya untuk diri juga agar kita bisa selalu menjaga hubungan baik kita dengan Allah SWT habluminallah, jadi salah satunya dengan doa. Hal tersebut membuktikan bahwa dalam setiap kegiatan yang kita lakukan, tidak akan pernah luput dari pengawasan Allah doa penutup majelis atau doa kaffaratul majelis bisa kita gunakan dimanapun kita berada, selama itu diniatkan untuk mengakhiri kegiatan pengajian atau menuntut ilmu yang kita lakukan bisa mendapatkan keberkahan dan rahmat dari Allah adalah doa penutup majelis yang sesuai dengan اللَّهُمَّ وبِحَمْدِكَ أشْهَدُ أنْ لا إِلهَ إِلاَّ أنْتَ أسْتَغْفِرُكَ وأتُوبُ إِلَيْكَSubhanakallahumma wa bihamdika asyhadu an-lailaha illa anta astaghfiruka wa atubu ilaikArtinya“Maha Suci Engkau, ya Allah. Segala sanjungan untuk-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku memohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”Hadist Doa Penutup MajelisDoa penutup majelis di atas diambil berdasarkan sebuah hadist Nabi قَالَ عَبْدُ الرَّزَّاقِ فِي جَامِعِهِ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٍ، عَنْ عَبْدِ الْكَرِيمِ الجَزَرِي، عَنْ أَبِي عُثْمَانَ الْفَقِيرِ؛ أَنَّ جِبْرِيلَ عَلَّمَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَامَ مِنَ مَجْلِسِهِ أَنْ يَقُولَ سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَArtinya “Abdur Razzaq telah mengatakan di dalam kitab Jami-nya, telah menceritakan kepada kami Mamar, dari Abdul Karim Al-Jazari, dari Abu Usman Al-Faqir, bahwa Malaikat Jibril mengajari Nabi Saw. doa berikut yang dibaca bila bangkit meninggalkan majelis, yaitu Mahasuci Engkau, ya Allah, dan dengan memuji kepada-Mu, aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Engkau, aku memohon ampun kepada Engkau dan bertobat kepada Engkau.”Beberapa pendapat dari para ulama yang menjelaskan, bahwa doa penutup majelis antara lain adalah yang bersumber dari hadits yang diriwayatkan olehAbu Hurairah bahwa Nabi SAW telah bersabdaمَنْ جَلَسَ فِي مَجْلِسٍ فَكَثُرَ فِيهِ لَغَطُهُ فَقَالَ قَبْلَ أَنْ يَقُومَ مِنْ مَجْلِسِهِ سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ، إِلَّا غُفِرَ لَهُ مَا كَانَ فِي مَجْلِسِهِ ذَلِكَ”.Artinya “Barang siapa yang duduk di suatu majelis, lalu banyak suara gaduh padanya, kemudian ia mengucapkan doa berikut saat berdiri akan meninggalkan majelisnya, “Mahasuci Engkau, ya Allah, dan dengan memuji kepada-Mu, aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Engkau, aku memohon ampun kepada-Mu dan bertobat kepada-Mu, ” melain­kan Allah mengampuni apa yang terjadi dalam majelisnya itu.”Imam Turmudzi telah meriwayatkan hadist ini yang lafadznya sama seperti hadist di atas, begitu juga dengan Imam Nasai. Dan Imam Turmudzi mengatakan bahwa hadist ini hasan Hakim mengetengahkan hadist ini di dalam kitab Mustadrak-nya, dan ia mengatakan bahwa sanad hadist ini dengan syarat Muslim, terkecuali Imam Bukhari yang menilainya daif lemah.Dan hadits lainnya adalah yang diriwayatkan oleh Abu Barzah Al-Aslami. Beliau menceritakan bahwa Rasulullah SAW di usia senjanya apabila hendak meninggalkan majelisnya mengucapkan doa berikutسُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ”. فَقَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّكَ لَتَقُولُ قَوْلًا مَا كُنْتَ تَقُولُهُ فِيمَا مَضَى؟! قَالَ “كَفَّارَةٌ لِمَا يَكُونُ فِي الْمَجْلِسِArtinya “Mahasuci Engkau, ya Allah, dan dengan memuji kepada Engkau, aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Engkau. Aku memohon ampun kepada Engkau dan bertobat kepada Engkau. Lalu ada seorang lelaki bertanya, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau benar-benar telah mengucapkan suatu doa yang tidak pernah engkau ucapkan sebelumnya di masa lalu.” Beliau Saw. menjawab Sebagai penghapus dosa yang terjadi di dalam majelis itu.”Doa penutup majelis di atas yang sesuai dengan sunnah memiliki keutamaan, seperti yang dijelaskan dalam sebuah hadist shahih sebagai berikut.“Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, beliau menjelaskan bahwa siapa yang membaca doa ini sebelum ia berdiri dari tempat duduknya, maka seluruh kesalahan selama dalam majelis tersebut terampuni.” Lihat Muhyiddin Abi Zakariya Yahya bin Syaraf An-Nawawi, Al-Adzkar, Penerbit Darul Hadits, Kairo, MesirDoa Penutup Majelis LainnyaNamun selain doa di atas, ada juga doa lainnya yang bisa digunakan sebagai doa penutup majelis. Sebagai berikut Doa “Allohummarham Na Bil Qur’an”Doa ini biasa digunakan setelah selesai dalam membaca al-qur’an, atau belajar tentang al-qur’an. Dan juga bisa digunakan sebagai doa penutup ﺍﺭْحَمْنَا ﺑِﺎْﻟﻘُﺮْﺁﻥْ، ﻭَﺍﺟْﻌَﻠْﻪُ ﻟَﻨَﺎ ﺇِِﻣَﺎﻣًﺎ ﻭَﻧُﻮْﺭًﺍ ﻭَﻫُﺪًﺍ ﻭَﺭَﺣْﻤَﺔْ، ﺃَﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺫَﻛِّﺮْﻧَﺎ ﻣِﻨْﻪُ ﻣَﺎ ﻧَﺴِﻴْﻨﺎ وَعَلِّمْنَا ﻣِﻨْﻪُ ﻣَﺎ ﺟَﻬِﻠْﻨَﺎ ﻭَﺍﺭْﺯُقْنَا ﺗِﻼَﻭَﺗَﻪُ ﺁﻧَﺎﺀَ ﺍﻟْﻠَﻴْﻞِ ﻭَﺃَﻃْﺮَﺍﻑَ ﺍﻟﻨَّﻬَﺎﺭْ ﻭَﺍﺟْﻌَﻠْﻪُ ﻟَﻨَﺎ ﺣُﺠَّﺔً ﻳَﺎ ﺭَﺏَّ ﺍْﻟﻌَﺎﻟَﻤْﻴِﻦAllohummarham na bil qur’an. Waj’al hu lanaa imaama, wa nuuro, wa hudaa, wa rohmah. Allohumma dakkir na minhu ma nasiina, wa allimna minhu ma jahilna warjuqna tilaawatahu. Aana-al laili wa atroofan nahaar. Waj’alhu lana hujjatan, yaa Robbal “Ya Allah, rahmatilah kami dengan al-Qur’an. Jadikan ia pimpinan, cahaya, petunjuk, dan rahmat. Ya Allah, ingatkanlah kami apa yang terlupa darinya dan ajarkanlah apa yang tidak kami ketahui darinya. Dan berikanlah kami rejeki membacanya sepanjang siang dan malam. Serta jadikanlah ia hujjah penolong kami. Wahai Allah Tuhan semesta alam.”Doa “Robbinfa’na Bi Ma Allamtana”Doa ini juga biasa digunakan ketika selesai dalam belajar tentang ilmu-ilmu keagamaan dan bisa digunakan sebagai doa penutup ﺍْﻧﻔَﻌْﻨَﺎ ﺑِﻤَﺎ ﻋَﻠَّﻤْﺘَﻨَﺎ، ﺭَﺏِّ ﻋَﻠِّﻤْﻨَﺎ ﺍَّﻟﺬِﻱْ ﻳَﻨْﻔَﻌُﻨَﺎ، ﺭَﺏِّ ﻓَﻘِّﻬْﻨَﺎ ﻭَﻓَﻘِّﻪْ ﺃَﻫْﻠَﻨَﺎ، ﻭَﻗَﺮَﺍﺑَﺎﺕِ ﻟَﻨَﺎ ﻓِﻲ ﺩِﻳْﻨِﻨَﺎ، ﺗَﻮَﺳَّﻠْﻨَﺎ ﺑِﺘَﻌَﻠُّﻢٍ،Robbinfa’naa bi maa allamta na, robbi allim na alladzi yanfa’una. Robbi faqqih na wa faqqih ahlana, wa qoroobaatin lana fi diini na. Tawassalna bi ta’allumin, tawassalna bi ta’limiin. An tarzuqo nal wasi’ah, wa an tarzuqo nal “Ya Allah, berilah kami manfaat dari apa yang telah engkau ajarkan pada kami. Ya Allah, berilah kami pengetahuan terhadap apa yang bermanfaat bagi kami. Ya Allah, berilah pemahaman pada kami, dan pada keluarga kami, Serta para kerabat kami dalam memahami agama. Kami bertawasul dengan belajar, kami bertawasul dengan mengajar. Agar Engkau beri kami rejeki yang luas * dan agar Engkau beri kami rejeki amanah.”Adab Ketika Berada Di Dalam Majelis IlmuDalam agama Islam, salah satu bukti kita sebagai seorang muslim adalah memiliki adab yang baik. Begitu juga ketika berada dalam sebuah majelis ilmu, jadi bukan hanya dianjurkan untuk berdoa saja. Tapi kita juga dianjurkan untuk menjaga adab yang baik di dalam majelis beberapa adab baik yang bisa kita jaga ketika berada di dalam sebuah majelis ilmuMengucapkan/Memberi Salam Kepada Orang Yang Ada Di Dalam Majelis Ilmu, Baik Ketika Masuk Maupun Ketika KeluarAbu Hurairah ra telah meriwayatkan, Rasulullah SAW bersabda, “Bila salah seorang kamu sampai di suatu majlis, maka hendaklah memberi salam, lalu jika dilihat layak baginya duduk maka duduklah ia. Kemudian jika bangkit akan keluar dari majlis hendaklah memberi salam pula. Bukanlah yang pertama lebih berhak daripada yang selanjutnya.”HR. Abu Daud dan At-TirmidziTidak Berbisik-Bisik Berduaan Dengan Meninggalkan Orang Ketiga, Sehingga Menimbulkan Prasangka Buruk Untuk Orang LainIbnu Mas`ud Radhiallaahu anhu menuturkan Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam telah bersabda, “Bila kamu tiga orang, maka dua orang tidak boleh berbisik-bisik tanpa melibatkan yang ketiga sehingga kalian bercampur baur dengan orang banyak, karena hal tersebut dapat membuatnya sedih.”Muttafaq’alaihDuduklah Di Tempat Yang Masih TersediaJabir bin Samurah telah menuturkan “Adalah kami, apabila kami datang kepada Nabi SAW maka masing-masing kami duduk di tempat yang masih tersedia di majelis.”HR. Abu DaudJangan Mengusir/Memindahkan Orang Lain Dari Tempat Duduknya, Tapi Berlapanglah Di Dalam Majelis IlmuIbnu Umar ra telah meriwayatkan bahwa sesungguhnya Nabi SAW telah bersabda, “Seseorang tidak boleh memindahkan orang lain dari tempat duduknya, lalu ia menggantikannya, akan tetapi berlapanglah dan perluaslah.”Muttafaq’alaihTidak Banyak Tertawa Ketika Berada Di Dalam Majelis Ilmu, Apalagi Dengan Suara Yang Sangat Keras Atau Terbahak-BahakRasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam telah bersabda, “Janganlah kamu memperbanyak tawa, karena banyak tawa itu mematikan hati.”HR. Ibnu Majah dan dinilai shahih oleh Al-AlbaniJangan Duduk Atau Berdiam Diri Di Tengah-Tengah Halaqah Lingkaran Majelis Dan Jangan Duduk Di Antara Dua Orang Yang Sedang Duduk, Kecuali Dengan Seizin MerekaRasulullah SAW bersabda, “Tidak halal bagi seseorang memisah di antara dua orang kecuali seizin keduanya.”HR. AhmadJangan Menempati Tempat Duduk Orang Lain Yang Sedang Keluar Hanya Untuk Sementara WaktuNabi SAW bersabda, “Apabila seorang di antara kamu bangkit keluar dari tempat duduknya, kemudian kembali, maka ia lebih berhak menempatinya.” Melakukan Sesuatu Yang Merusak Perasaan Orang Lain Dan Jangan Memata-Matai Orang Lain Sehingga Mengganggu Kenyamanan Orang LainRasulullah SAW bersabda, “Janganlah kamu mencari-cari atau memata-matai orang.”Muttafaq’alaihSelalu Menjaga Pembicaraan Ketika Berada Di Dalam MajelisRasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam bersabda, “Apabila seseorang membicarakan suatu pembicaraan kemudian ia menoleh, maka itu adalah amanat.”HR. At-Tirmidzi, dinilai hasan oleh Al-AlbaniMembaca Doa Penutup Majelis Atau Doa Kaffaratul MajelisRasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam telah bersabda, “Siapa yang duduk di dalam suatu majlis dan di majlis itu terjadi banyak gaduh, kemudian sebelum bubar dari majlis itu ia membaca “Subhaana kallaahumma wa bihamdika asyhadu allaa ilaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika”Artinya “Maha Suci Engkau ya Allah, dengan segala puji bagi-Mu; aku bersaksi bahwasanya tiada yang berhak disembah selain engkau; aku memohon ampunanmu dan aku bertobat kepada-Mu“, maka Allah mengampuni apa yang terjadi di majlis itu baginya.”HR. Ahmad dan At-Tirmidzi Keutamaanketika kita membaca doa penutup majelis ialah akan diampuni dosa dari kata-kata yang sia-sia, guyonan, ketidakhormatan terhadap yang lebih tua, tidak terjaganya adab-adab di dalam majelis tersebut. Singkat kata, inilah kesempatan yang Allah Subhanahu wa ta'ala. berikan kepada hamba-nya untuk dapat diampuni dosa kecil di dalam majlis tersebut. Ilustrasi majelis. Foto Apa Itu Doa Pembuka Majelis?Ilustrasi membaca doa pembuka majelis. Foto Bacaan Doa Pembuka Majelis?Ilustrasi doa pembuka majelis singkat. Foto Artinya "Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada surga ini dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk."Artinya "Segala puji bagi Allah Tuhan Seluruh Alam. Semoga shalawat dan keselamatan tercurahkan selalu kepada Nabi dan Rasul termulia, keluarga dan sahabat-sahabatnya."Ilustrasi doa pembuka majelis panjang. Foto; Artinya "Segala puji bagi Allah, kita memuji-Nya dan meminta pertolongan, pengampunan, dan petunjuk-Nya. Kita berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kita dan keburukan amal kita. Barang siapa mendapat dari petunjuk Allah maka tidak akan ada yang menyesatkannya, dan barang siapa yang sesat maka tidak ada pemberi petunjuknya baginya. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya. Ya Allah, semoga doa dan keselamatan tercurah pada Muhammad dan keluarganya, dan sahabat dan siapa saja yang mendapat petunjuk hingga hari kiamat."Artinya "Ya Tuhan, lapangkanlah dadaku, mudahkanlah segala urusanku, dan lepaskanlah kekakuan lidahku, agar mereka mengerti perkataanku." QS. Thaha 25-28.Artinya “Maha Suci Engkau, ya Allah. Segala sanjungan untuk-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku memohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”Contoh Naskah Pembuka AcaraIlustrasi menyusun naskah pembuka acara. Foto warohmatullahi nakhmaduhu wanasta’inuhuu wanastaghfiruhu wanna’udzubillahi min syuruuri anfusiina waminayyi ati’ma linaa manshdihillahu falaa mudhila lahu waman yusdhlil fala haadiya lahu. Asyhadu Anlaa ilahaa illallaahu wa asyhadu inna muhamadda’abduhu warusuluh. Allahumma sholli wasallam wabara’ala muhammadiin wa’ala alihi wasohbihi wamanihtada bihuda hu ila yaumil shâdrii wayassyirlii amrii wahlul uqdatam mil-lisaanii yafqahuu muslimin yang dirahmati Allah SWT, dalam kesempatan kali ini marilah kita panjatkan rasa syukur kehadirat ilahi rabbi. Atas berkah dan karunia-Nya, kita semua dapat menghadiri majelis yang insya Allah penuh berkah ini.... Juga majlis ta’lim yang kami pimpin dalam rangka menyusun skripsi yang berjudul “Peranan Majlis Ta’lim al Furqon Terhadap Perilaku Remaja di wilayah RW.02 kel. Jelambar Baru kec. Grogol Petamburan”. Demikian surat ini keterangan ini, kami buat dengan sebenarnya untuk dapat di pergunakan sebagaimana metinya. Secara kebahasaan majlis berarti “tempat duduk” dan talim “pengajian”. Majelis taklim adalah lembaga pen­ didikan nonformal untuk pengajian­ Islam. Lembaga ini berkembang di lingkungan muslim Indonesia. Majelis taklim ada banyak di Jakarta, khususnya di masyarakat Bet­ awi. Di daerah lain lebih dikenal sebutan “pengajian agama Islam”. Meskipun berasal dari bahasa Arab, istilah “majelis taklim” tidak digunakan di negara/masyarakat Arab. Secara etimologis, majelis taklim dapat diartikan­ sebagai tempat untuk melaksanakan penga­jaran atau pengajian aga­ma Islam. Dalam perkem­bangannya, majelis taklim tidak lagi terbatas sebagai­ tempat pengajaran saja, tetapi telah menjadi lembaga atau institusi yang menyelenggarakan pengajaran atau pengajian agama Islam. Musyawa­rah majelis taklim se-DKI Jakarta 9–10 Juli 1980 telah memberi batasan yang lebih definitif­ tentang pengertian majelis taklim; yaitu suatu lembaga pendidikan nonformal Islam yang memi­liki kuriku­lum tersendiri, diselenggarakan secara berkala dan teratur, dan diikuti jemaah yang relatif banyak dan bertujuan untuk membina dan membangun hubungan yang santun dan serasi antara manusia dengan Allah SWT, manusia dengan sesamanya, manusia dengan lingkungannya,­ dalam rangka membina masyarakat yang bertakwa kepada­ Allah SWT. Bentuk pengajian agama seperti ini mengambil pelajaran dari praktek yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW, baik sewaktu berada di Mekah maupun setelah berada di Mad­inah, ketika Nabi Muhammad SAW menyampaikan ajaran Islam dan berhadapan­ langsung dengan para saha­batnya. Demikian juga perkembangan di zaman kejayaan Islam masa Kekhalifahan­ Abbasiyah, sampai pada pengajian agama­ yang dilaksanakan­ para wali ketika mensyiarkan­ Islam di Indonesia. Majelis taklim, sebagai lembaga­ pendidikan nonformal yang mengajarkan ilmu-ilmu keislaman, mempunyai kedu­ dukan yang penting di tengah masyarakat muslim Indonesia, antara lain 1 sebagai wadah untuk membina dan mengem­bangkan kehidupan beragama dalam rangka­ membentuk mas­ yarakat yang bertakwa kepada­ Allah SWT; 2 taman rekreasi rohaniah; 3 wadah­ silaturahmi yang menghidup­suburkan syiar Islam­ dan menjalin­ ukhuwah islamiah di antara­ umat Islam; 4 media penyampaian gagasan yang bermanfaat bagi pembangunan­ umat dan bang­sa. Majelis taklim berkembang luas di kalangan masyarakat muslim, khususnya di DKI Ja­ karta dan sebagian daerah Jawa Barat. Hasil pendataan pada tahun 1980, di daerah Jakarta terdapat buah majelis taklim, seperti Majelis Taklim asy-Syafiiyah, Majelis Taklim at-Tahiriyah, Majelis Taklim KH Habib al-Habsyi Kwitang, Pengajian Raudah, Pengajian Proklamasi pimpinan Ibu H Alamsjah Ratu Perwiranegara, dan Pengajian an-Nisa. Ada pula Pengajian al-Mu’awanah di daerah Ciputat, Tangerang, Jawa Barat yang telah memiliki cabang lebih dari 27 buah. Pada tanggal 9–10 Juli 1980 Koordinasi Dakwah Islam Kodi DKI Jakarta menyelenggarakan­ Musyawarah Majelis Taklim se-DKI Jakarta. Dari musyawarah ini berhasil membentuk wa­ dah koordinasi yang diberi nama Badan Kontak Majelis Taklim BKMT DKI Jakarta yang diketuai­ oleh Dra. Hj. Tutty Alawiyah. Adapun Badan Kontak Majelis Taklim BKMT ini merupa­ kan forum untuk mengkaji permasalahan majelis taklim dalam meningkatkan­ mutunya sebagai sarana pengabdian kepada Allah SWT menuju rida-Nya dan bukan organisasi politik. Pada mulanya pembentukan BKMT untuk seluruh majelis taklim, tetapi sejak pembentukannya dan perkem­ bangannya cende­rung­ untuk majelis taklim kaum ibu. Oleh sebab itu, sasaran kegiatannya diutamakan bagi kaum ibu atau wanita. Prinsip kegiatannya adalah kemandirian dan swadaya masyarakat dan masing-masing anggota­nya. Ada­pun kiprahnya meningkatkan­ kemampuan pengurus dalam mengelola majelis taklim dan sekaligus meningkatkan mutu muba­ligah juru dakwah Islam [pe­rempuan] dan asatidzat para guru wanitanya dalam berdakwah. Tujuan kegiatannya­ diperuntukkan­ bagi pengurus dan guru majelis taklim, masa­ lah latar belakang dan penanggulangannya se­cara Islami, dan meningkatkan kualitas dan penambahan kegiatan. Sejumlah majelis taklim­ di Jakarta, di antaranya, lebih dari 700 buah telah bergabung dalam BKMT. Ditinjau dari kelompok sosial dan dasar pengi­kat jemaah­ nya, majelis taklim dapat dikelompokkan dalam beberapa­ macam 1 majelis taklim yang pesertanya terdiri­ dari jenis tertentu seperti­ kaum bapak, kaum ibu, para remaja, dan campuran tua, muda, pria, dan wanita; 2 majelis­ taklim yang diselenggarakan oleh lembaga sosial keagamaan, kelompok penduduk­ di suatu daerah, instansi, dan organis­asi tertentu. Metode penyajian majelis taklim dapat dikate­gorikan menjadi a metode ceramah, terdiri dari ceramah umum, yakni pengajar/ustad/kiai bertindak aktif memberikan pengajaran sementara jema­ah pasif, dan ceramah khusus, yaitu pengajar dan jemaah sama-sama aktif dalam bentuk diskusi; b metode halaqah, yaitu pengajar membacakan kitab tertentu, sementara jemaah mendengarkan; c meto­de campuran, yakni melaksanakan berbagai metode sesuai dengan kebutuhan. Materi yang dipelajari dalam majelis taklim mencakup pembacaan Al-Qur’an serta tajwidnya, tafsir bersama ilmu Al-Qur’an, hadis dan mustalahnya, fikih dan usul fikih, tauhid, akhlaq, ditambah lagi dengan materi yang dibutuhkan­ para jemaah misalnya masalah penanggulang­an kenakalan anak dan Undang-Undang Perkawinan­. Majelis taklim di kalangan masyarakat Betawi biasanya memakai buku berbahasa Arab atau Arab Melayu seperti Tafsir Jalalain dan Nail al-Autar. Pada majelis taklim lain dipakai juga kitab yang berbahasa Indonesia sebagai pegangan, misalnya Fikih Islam karangan Sulaiman Rasyid dan beberapa­ buku terjemahan. Di samping kegiatan pengajian rutin, majelis taklim biasanya juga melakukan kegiatan lain seperti peringatan hari-hari besar Islam dan kegiatan sosial. DAFTAR PUSTAKA Koordinasi Dakwah Islam Kodi DKI Jakarta. Pedoman Majlis Taklim, 1980. Litbang Depag. Laporan Penelitian Buku Agama di Majlis Taklim, 1978. SYAHRIN HARAHAP
  1. Иልፓвα υባεհогиኂещ οрէслևቮዪհо
  2. Ете жխጋак аγυֆантጥ
Kumpulan Desain Logo Majelis Ta'lim nurul iman smk5 madiun. November 10, 2017. Logo ini adalah logo yang dibuat oleh siswa siswi SMK 5 MADIUN yang tergabung dalam MAJLIS TA'LIM NURUL IMAN dengan kreatif dan ide ide yang digabungkan menjadi sebuah disain yang menarik dan memiliki makna yang terkandung didalam setiap huruf dan icon yang ada.
Daftar Isi Keutamaan Doa Penutup Majelis Bacaan Doa Penutup Majelis dan Artinya Adab Menghadiri Majelis Ilmu 1. Membaca Al-Qur'an 2. Istighfar 3. Memuji Allah SWT 4. Memilih Teman yang Saleh 5. Melarang Seseorang Keluar dari Tempat Duduknya 6. Siapa Pertama Dapat Tempat Duduk, Dialah yang Paling Berhak 7. Menghilangkan Perkara yang Menyakitkan Hati 6. Mengucapkan Salam 8. Duduk di Bagian Paling Belakang 9. Bergeser 10. Dilarang Mendengarkan Pembicaraan Lain Saat mengunjungi majelis atau mendengarkan ceramah, ada baiknya mengucapkan doa penutup setelahnya. Hal ini dilakukan dengan harapan memohon keberkahan dan dihapuskan dari ucapan yang tidak baik. Berikut ini arti, keutamaan, serta Doa Penutup MajelisSetelah majelis berakhir, penceramah biasanya akan meminta jamaah membaca doa penutup majelis di akhir. Doa yang juga disebut doa Kaffaratul Majelis ini dibaca ketika jamaah berada di majelis ta'lim atau pengajian, dan dipanjatkan saat hendak meninggalkan ini adalah doa-doa yang biasa dipanjatkan setelah selesai pengajian. Doa ini biasa dibacakan setelah selesai belajar, membaca al-Qur'an, atau setelah bubar dari majelis. Sehingga tentu akan mendapatkan keberkahan dan pahala bila kita membacakan dengan niatan ikhlas karena Allah SWT. Dianjurkan membaca doa penutup Majelis karena dikhawatirkan terdapat kesalahan bisa berupa berbohong, meremehkan orang lain, dan merasa paling benar di antara yang hadits shahih riwayat At-Tirmidzi menjelaskan bahwa siapa yang membaca doa ini sebelum ia berdiri dari tempat duduknya maka seluruh kesalahan selama dalam majelis tersebut sebuah hadits Tirmidzi diriwayat oleh Abu Hurairah Rasulullah SAW bersabda"Barangsiapa yang berada pada suatu majelis, kemudian pada majelis tersebut tedapat banyak perkataan yang tidak berguna, lalu sebelum beranjak meninggalkan majelis, mengatakan hal yang ini Kaffaratul Majelis , 'Mahasuci Engkau ya Allah dan segala puji bagi-Mu, aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau,,aku memohon ampun pada-Mu.' Kecuali telah diampuni baginya apa yang ada pada majlis tersebut." HR. Tirmidzi.Maka, setiap akan meninggalkan Majelis dianjurkan membaca doa penutup majelis berikut iniسُبْحانَكَ اللَّهُمَّ وبِحَمْدِكَ أشْهَدُ أنْ لا إِلهَ إِلاَّ أنْتَ أسْتَغْفِرُكَ وأتُوبُ إِلَيْكَSubhânakallâhumma wa bihamdika asyhadu an-lâilâha illâ anta astaghfiruka wa atûbu ilaikArtinya "Maha Suci Engkau, ya Allah. Segala sanjungan untuk-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku memohon ampun dan bertaubat kepada-Mu."Adab Menghadiri Majelis IlmuDilansir dari buku Adab Menuntut Ilmu yang ditulis oleh Abu Hasan Mubarok tercantum hadist yang berbunyi dari Abdillah bin 'Umar ra. Yakni telah bersabda Rasulullah SAW Tidak ada suatu majelis pun yang tidak disebut nama Allah SWT di dalamnya melainkan mendapatkan penyesalan nanti di hari kiamat. HR. Ahmad 56Di antara adab dalam majelis ilmu adalah dengan mengingat Allah SWT dengan cara1. Membaca Al-Qur'anMembaca kitab suci Al-Quran merupakan salah satu adab dalam majelis ilmu. Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda"Barang siapa pergi dalam rangka menuntut ilmu, maka Allah swt akan memudahkan perjalannya menuju surga. Dan tidaklah suatu kaum berkumpul di masjid membaca al-Qur'an dan mentadaburinya kecuali Allah SWT akan memberikan ketentraman di hati mereka dan memberikan rahmat serta akan dinaungi para Malaikat dan menyebut-sebutkannya di sisi Allah SWT." HR. Muslim2. IstighfarMembaca 'Astaghfirlullahal-adziim' merupakan salah satu adab. Rasulullah bahkan mengucapkannya sebanyak 100 kali sebelum berdiri. Hal ini tertuang dalam hadits dari Ibn Umar RA yakni"Rasulullah SAW senantiasa menghitung dalam suatu majlis 100 kali istighfar sebelum berdiri. Yaa Rabb ampunilah aku dan terimalah taubatku, karena sesungguhnya engkau adalah penyayang dan penerima taubat." HR. Tirmidzi3. Memuji Allah SWTAnjuran untuk mensucikan, mengagungkan Allah SWT, memohon surga-Nya, dan berlindung dari neraka-Nya. Tertuang dalam hadits berikutعَنْ أَبي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إنَّ للهِ تَعَالَى مَلائِكَةً يَطُوفُونَ فِي الطُّرُقِ يَلْتَمِسُونَ أهْلَ الذِّكْرِ ، فِإِذَا وَجَدُوا قَوْمَاً يَذْكُرُونَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ ، تَنَادَوْا هَلُمُّوا إِلَى حَاجَتِكُمْ ، فَيَحُفُّونَهُمْ بِأَجْنِحَتِهِم إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا ، فَيَسْألُهُمْ رَبُّهُمْ وَهُوَ أعْلَم مَا يَقُوْلُ عِبَادِي قَالَ يَقُوْلُوْنَ يُسَبِّحُونَكَ ، ويُكبِّرُونَكَ ، وَيَحْمَدُونَكَ ، ويُمَجِّدُونَكَ ، فَيَقُوْلُ هَلْ رَأَوْنِي فَيَقُوْلُوْنَ لاَ وَاللهِ مَا رَأَوْكَ . فَيَقُوْلُ كَيْفَ لَوْ رَأوْنِي قَالَ يقُولُونَ لَوْ رَأوْكَ كَانُوا أَشَدَّ لَكَ عِبَادَةً ، وَأَشَدَّ لَكَ تَمْجِيداً ، وَأَكْثَرَ لَكَ تَسْبِيحاً . فَيقُولُ فَمَاذَا يَسْأَلُونَ قَالَ يَقُولُونَ يَسْألُونَكَ الجَنَّةَ . قَالَ يَقُوْلُ وَهَلْ رَأَوْها قَالَ يَقُوْلُوْنَ لاَ وَاللهِ يَا رَبِّ مَا رَأَوْهَا . قَالَ يَقُوْلُ فَكيفَ لَوْ رَأوْهَا قَالَ يَقُوْلُوْنَ لَوْ أنَّهُمْ رَأوْهَا كَانُوا أشَدَّ عَلَيْهَا حِرْصاً ، وَأَشَدَّ لَهَا طَلَباً ، وَأَعْظَمَ فِيهَا رَغْبَةً . قَالَ فَمِمَّ يَتَعَوَّذُونَ قَالَ يَقُوْلُوْنَ يَتَعَوَّذُونَ مِنَ النَّارِ ؛ قَالَ فَيَقُوْلُ وَهَلْ رَأوْهَا ؟ قَالَ يَقُوْلُوْنَ لاَ وَاللهِ مَا رَأوْهَا فَيَقُولُ كَيْفَ لَوْ رَأوْهَا ؟! قَالَ يَقُوْلُوْنَ لَوْ رَأوْهَا كَانُوا أَشَدَّ مِنْهَا فِرَاراً ، وَأَشَدَّ لَهَا مَخَافَةً . قَالَ فَيَقُوْلُ فَأُشْهِدُكُمْ أَنِّي قَدْ غَفَرْتُ لَهُم ، قَالَ يَقُوْلُ مَلَكٌ مِنَ المَلاَئِكَةِ فِيْهِمْ فُلاَنٌ لَيْسَ مِنْهُمْ ، إنَّمَا جَاءَ لِحَاجَةٍ ، قَالَ هُمُ الجُلَسَاءُ لاَ يَشْقَى بِهِمْ جَلِيسُهُمْ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِArtinyaDari Abu Hurairah RA, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda"Sesungguhnya para Malaikat senantiasa keliling ke jalan-jalan sambil mencari orang-orang yang berdzikir, maka bila mereka menemukan suatu kaum berdzikir, mereka mendekat dan mempersilahkan mereka mengutarakan apa yang menjadi hajatnya, sembari mengepakkan sayap mereka sampai menjulang ke langit dunia, berkata Allah kepada para Malaikat sedang Allah lebih mengetahui daripada Malaikat, Apa yang hamba-Ku minta, Malaikat berkata; mereka bertasbih, tahmid, dan tahlil dan mengagungkan-Mu. Allah berkata; Apakah mereka melihat-Ku, Malaikat menjawab; tidak mereka tidak melihat Engkau, lantas Allah berkata; trus apa yang terjadi bila mereka bisa melihat kepada-Ku?, Malaikat menjawab; bila mereka bisa melihat Engkau, niscaya akan tambah semangat ibadahnya, banyak tasbih, takbir, dan memuji bertanya, terus apa yang mereka minta pada-Ku?, Malaikat menjawab; mereka menginginkan surge?, Allah bertanya; apakah mereka telah melihatnya?, Malaikat menjawab; tidak/belum, Allah bertanya; terus bagaimana bila mereka bisa melihatnya, Malaikat menjawab; mereka akan lebih tambah lagi semangat berdoa, dan rindu. Allah bertanya; trus daripada apa mereka meminta perlindungan, Malaikat menjawab dari jilatan api neraka, Allah bertanya; apakah mereka sudah melihatnya, Malaikat menjawab; belum Yaa Rabb, mereka belum melihatnya, Allah bertanya; lantas bagaimana bila mereka sudah melihatnya?, Malaikat menjawab; mereka akan tambah takut. Allah berkata; Wahai sekalian para Malaikat, saksikanlah oleh kalian, sesungguhnya Aku [Allah] telah memaafkan kesalahan mereka. Salah satu Malaikat ada yang bicara, Yaa Rabb di antara mereka ada orang yang datang bukan karena dzikir, tapi karena lain hal?, Allah berfirman; Yaa dia juga ikut mendapatkan bagian."4. Memilih Teman yang SalehAnjuran untuk berkumpul dengan teman yang saleh dan pergi ke majelis bersama juga menjadi nilai positif dalam adab ke majelis. Tertuang dari Abi Musa RA, Rasulullah SAW bersabda"Perumpamaan teman yang saleh, baik dan buruk/jelek adalah seperti penjual minyak wangi dan pandai besi. Maka penjual minyak wangi akan memberikan aroma yang harus dan baik, sedangkan pandai besi itu bisa membakar pakaianmu atau meninggalkan aroma tak sedap." HR. Bukhari5. Melarang Seseorang Keluar dari Tempat DuduknyaTahukah kamu terdapat larangan memberdirikan orang lain dari tempat duduknya? Hal ini tertuang dalam hadits dari Ibn Umar RA dari Rasulullah SAW"Sesungguhnya baginda Nabi melarang seseorang memberdirikan dari tempat duduknya dan dia duduk di tempatnya, akan tetapi luaskanlah dan lapangkanlah. Adalah Ibn Umar RA tidak suka seseorang memberdirikan orang lain dan dia duduk di tempatnya. Akan tetapi lapangkanlah dan luaskanlah di antara kalian."6. Siapa Pertama Dapat Tempat Duduk, Dialah yang Paling BerhakTertuang juga dalam hadits bahwa siapa yang memperoleh tempat duduk maka ialah yang paling berhak. Dari Abu Hurairah RA sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda"Jika salah seorang di antara kalian berdiri pada tempat duduk orang lain, kemudian orang yang pertama tadi datang kembali, maka yang pertama itulah yang berhak mendudukinya." HR. Muslim7. Menghilangkan Perkara yang Menyakitkan HatiBagi para pengunjung majelis dari Jabir berkata"Seseorang berjalan di masjid dengan panahnya, maka Rasulullah SAW bersabda genggamlah mata panah." HR. MuslimSementara dari Abi Musa al-Asya'ri"Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda; Jika salah seorang di antara kalian berjalan di suatu majlis/pasar dan di tangannya terdapat anak panah, maka hendaklah genggam mata panah."6. Mengucapkan SalamDari Abu Hurairah RA sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda"Jika salah seorang di antara kalian selesai dari suatu majlis maka hendaklah mengucapkan salam, dan bila tampak olehnya tempat duduk, maka duduklah, dan bila hendak berdiri ucapkanlah salam, tidaklah seseorang itu lebih berhak dari yang lainnnya." HR. Abu Daud dan at Turmudzi8. Duduk di Bagian Paling BelakangAnjuran ini ditujukan bila majelis memang sudah penuh. Tertuang dalam hadits dari Jabir bin Samrah berkata"Adalah kami bila mendatangi tempat Rasulullah SAW duduk salah satu di antara kami sampai selesai." HR. Tirmidzi dan Abu Daud9. BergeserDari Abdullah bin 'Umar RA sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda"Tidak halal bagi seorang untuk menggeser dua orang, kecuali dengan izinnya." HR. Tirmidzi dan Abu Daud10. Dilarang Mendengarkan Pembicaraan LainPembicaraan lain selain keterangan guru tidak diperkenankan untuk didengarkan dalam suatu majelis. Ada baiknya jamaah mendengarkan dengan seksama kajian dalam majelis tersebut. Dari Ibn Abbas RA dari Rasulullah SAW bersabda"Barangsiapa bermimpi yang belum pernah dilihat sebelumnya, maka akan dibebankan padanya untuk mengikat antara dua rambut kecil dan tidak akan pernah dilakukannya, dan barangsiapa memperdengarkan hadits suatu kaum/kelompok dan kelompok tersebut tidak menyukainya atau bahkan lari daripada khabar tersebut maka akan diguyurkan pada telinganya al-unuk pada hari qiyamat, dan barangsiapa menggambar maka akan dibebankan padanya untuk meniupkan ruh pada gambar tersebut, tapi dia tidak bisa." HR. Al-BukhariNah, detikers itulah tadi doa penutup majelis yang sebaiknya dipanjatkan saat akhir ceramah. Semoga dengan menyimak majelis dan menutup dengan doa, akan mengantarkan kita pada keberkahan, aamiin ya robbal alamin. Simak Video "MAKI Bakal Bawa Perkara 75 Pegawai KPK ke MK" [GambasVideo 20detik] aau/fds
Kata Kunci: Majelis Ta’lim, Sikap, Masyarakat, Keagamaan. Pendahuluan Majlis Ta’lim berasal dari dua suku kata, yaitu kata Majlis dan kata Ta’lim. Dalam bahasa Arab kata Majlis adalah bentuk isim makan (kata tempat) kata kerja dari Jalasa yang artinya tempat duduk, tempat sidang Kata Ta’lim Volume 3, Nomor 2, 2018 I. PENDAHULUAN Seperti yang telah kita ketahui bahwasannya majelis taklim terdiri dari dua akar kata bahasa Arab yaitu majlis yang berarti tempat duduk, tempat siding atau dewan, sedangkan ta’lim berarti pengajaran.[1] Jika kita gabungkan dua kata itu dan mengartikannya secara istilah, maka dapatlah kita simpulkan bahwasannya majelis taklim memiliki arti tempat berkumpulnya seseorang untuk menuntut ilmu khususnya ilmu agama bersifat nonformal jika kita melihat pendidikan yang ada di Indonesia ini. Majelis taklim sudah ada sejak zaman Rasulullah SAW saat dakwah pertamanya yang bertempat di rumah Arqom bin Al-Arqom. Sekarang, penamaan majelis taklim sudahlah tidak asing lagi bagi kita. Pada kesempatan kali ini, penulis akan membahas tentang fungsi, tujuan, kedudukan dan macam-macam majelis taklim. Suatu kegiatan sudah semestinya memiliki hal-hal ini yang akan menjadikan kegiatan terarah dan terorganisir dengan baik. II. KEDUDUKAN, FUNGSI DAN TUJUAN Sesuai dengan apa yang telah saya sebutkan di atas, bahwasannya majelis taklim jika kita melihat lapangan, ia bersifat nonformal, namun walaupun demikian fungsi dari majelis taklim itu sendiri sangatlah dirasa dalam masyarakat. Majelis taklim juga banyak disorot karena perannya dalam mengembangkan pribadi Islami pada pesertanya. Hal yang menjadi tujuan majelis taklim, mungkin rumusannya bermacam-macam. Sebab para pendiri majelis taklim dengan organisasi lingkungan, dan jamaah yang berbeda, tidak pernah mengalimatkan tujuannya. Maka Dra. Hj. Tutty Alawiyah AS, dalam bukunya “Strategi Dakwah di Lingkungan Majelis Taklim”, merumuskan tujuan dari segi fungsinya, yaitu Pertama, berfungsi sebagai tempat belajar, maka tujuan majelis taklim adalah menambah ilmu dan keyakinan agama, yang akan mendorong pengalaman ajaran agama. Kedua, berfungsi sebagai tempat kontak social, maka tujuannya silaturahmi. Ketiga, berfungsi mewujudkan minat social maka tujuannya meningkatkan kesadaran dan kesejahteraan rumah tangga dan lingkungan jamaahnya.[2] Dari kutipan tujuan di atas, terlihatlah bahwasannya tujuan majelis taklim sangat erat kaitannya dengan fungsinya. Bahkan tidak hanya Tutty Alawiyah yang merumuskan hal tersebut, Muhsin MK pun dalam bukunya tidak memisahkan antara tujuan dan fungsi majelis taklim. Paparnya dalam bukunya yang berjudul “Manajemen Majelis Takilm”[3], apabila dilihat dari makna dan sejarah berdirinya majelis taklim dalam masyarakat, bisa diketahui dan dimungkinkan lembaga dakwah ini berfungsi dan bertujuan sebagai berikut A. Tempat belajar-mengajar Majelis taklim dapat berfungsi sebagai tempat kegiatan belajar mengajar umat Islam, khususnya bagi kaum perempuan dalam rangka meningkatkan pengetahuan, pemahaman, dan pengalaman ajaran Islam. B. Lembaga pendidikan dan keterampilan Majelis taklim juga berfungsi sebagai lembaga pendidikan dan keterampilan bagi kaum perempuan dalam masyarakatyang berhubungan, antara lain dengan masalah pengembangan kepribadian serta pembinaan keluarga dan rumah tangga sakinah mawaddah warohmah. Melalui Majelis taklim inilah, diharapkan mereka menjaga kemuliaan dan kehormatan keluarga dan rumah tangganya. C. Wadah berkegiatan dan berkreativitas Majelis taklim juga berfungsi sebagai wadah berkegiatan dan berkreativitas bagi kaum perempuan. Antara lain dalam berorganisasi, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.[4] Negara dan bangsa kita sangat membutuhkan kehadiran perempuan yang sholihah dengan keahlian dan keterampilan sehingga dengan kesalehan dan kemampuan tersebut dia dapat membimbing dan mengarahkan masyarakat kea rah yang baik.[5] D. Pusat pembinaan dan pengembangan Majelis taklim juga berfungsi sebagai pusat pembinaan dan pengembangan kemampuan dan kualitas sumber daya manusia kaum perempuan dalam berbagai bidang seperti dakwah, pendidikan social, dan politik yang sesuai dengan kodratnya[6]. E. Jaringan komunikasi, ukhuwah dan silaturahim Majelis taklim juga diharapkan menjadi jaringan komunikasi, ukhuwah, dan silaturahim antarsesama kaum perempuan, antara lain dalam membangun masyarakat dan tatanan kehidupan yang Islami. Jika kita perhatikan dengan teliti, penjelasan Muhsin MK di atas mengkhususkan majelis taklim yang pesertanya adalah dari kaum wanita. Tapi tidak menutup kemungkinan bahwa kaum lelaki pun dapat mengadakan majelis taklim. Hanya saja di Jakarta dan sekitarnya mungkin lebih banyak dikenal majelis taklim yang banyak dari kaum wanita pesertanya. III. MACAM-MACAM MAJELIS TAKLIM[7] Majelis taklim yang tumbuh dan berkembang di dalam masyarakat Indonesia jika dikelompok-kelompokkan adaberbagai macam, antara lain Dilihat dari jamaahnya, yaitu Majelis taklim kaum ibu/muslimah/perempuan Majelis taklim kaum bapak/muslimin/laki-laki Majelis taklim kaum remaja Majelis taklim anak-anak Majelis taklim campuran laki-laki dan perempuan/kaum bapak dan ibu Dilihat dari organisasinya, majelis taklim ada beberapa macam, yaitu Majelis taklim biasa, dibentuk oleh masyarakat setempat tanpa memiliki legalitas formal kecuali hanya member tahu kepada lembaga pemeritahan setempat Majelis taklim berbentuk yayasan, biasanya telah terdaftar dan memiliki akte notaries. Majelis taklim berbentuk ormas Majelis taklim di bawah ormas. Majelis taklim di bawah orsospol. Dilihat dari tempatnya, majelis taklim terdiri dari Majelis taklim masjid atau mushola Majelis taklim perkantoran Majelis taklim perhotelan Majelis taklim pabrik atau industri Majelis taklim perumahan IV. KESIMPULAN Dengan pembahasan di atas, akan ada bayangan seperti apa majelis taklim itu dilihat dari fungsi, tujuan dan macam-macamnya. ketika meneliti atau berkeinginan untuk membentuk sebuat majelis taklim insya Allah akan lebih mudah merumuskannya. Dalam prakteknya, majelis taklim merupakan tempat pangajaran atau pendidikan agama islam yang paling fleksibal dan tidak terikat oleh waktu. Majelis taklim bersifat terbuka terhadap segla usia, lapisan atau strata social, dan jenis kelamin. Waktu penyelenggaraannya pun tidak terikat, bisa pagi, siang, sore, atau malam . tempat pengajarannya pun bisa dilakukan dirumah, masjid, mushalla, gedung. Aula, halaman, dan sebagainya. Selain tiu majelis taklim memiliki dua fungsi sekaligus, yaitu sebagai lembaga dakwah dan lembaga pendidikan non-formal. Fleksibelitas majelis taklim inilah yang menjadi kekuatan sehingga mampu bertahan dan merupakan lembaga pendidikan islam yang paling dekat dengan umat masyarakat. Majelis taklim juga merupakan wahana interaksi dan komunikasi yang kuat antara masyarakat awam dengan para mualim, dan antara sesama anggot jamaah majelis taklim tanpa dibatasi oleh tempat dan waktu.[8] V. DAFTAR PUSTAKA Munawwir, Kamus Al-Munawwir, Pustaka Progressif Muhsin MK, Manajemen Majelis Taklim, Jakarta Pustaka Intermasa, 2009 Tutty Alawiyah, Strategi Dakwah di Lingkungan Majelis Taklim, Bandung Mizan, 1997 Website [1]Lihat Munawwir, Kamus Al-Munawwir, Pustaka Progressif [2]Tutty Alawiyah, Strategi Dakwah di Lingkungan Majelis Taklim, Bandung Mizan, 1997, cet. I, hal. 78 [3]Lihat Muhsin MK, Manajemen Majelis Taklim, Jakarta Pustaka Intermasa, 2009, cet. I, hal. 5-7. Penjelasannya adalah ringkasan-ringkasan yang juga tulisan yang beliau kutip disertai footnote insya Allah. [4]Muhsin MK, ibid, hal. 6, ia mengutip dari Mohammad Ali Al-Hasyimi, Kepribadian wanita muslimah, hal. 256. [5] ibid, penulis mengutip dari, AM Saefudin, Ada Hari Esok, hal. 34-35. [6] Ibid, hal. 7, penulis mengutip dari Dakwah Menjelang Tahun, Jakarta Koordinator Dakwah Islam, 1986, hal. 65. [7]Muhsin MK, ibid, hal. 9-12. A qualitative descriptive approach was used in this study. Collecting data by observation, interviews, and documentation. and data analysis used by Mills and Huberman three methods, namely data reduction, presentation, and inference. This study aims to describe the application of micro-teaching practices to improve speaking skills in Arabic Majelis taklim adalah suatu wadah pendidikan non formal yang bertujuan untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Majelis taklim sejatinya bisa dilaksanakan dimana saja, baik di rumah, gedung, atau mesjid. Majelis taklim juga dapat dihadiri siapapun tanpa membedakan usia, jenis kelamin, ataupun kenapa majelis taklim sangat dekat dan lekat dengan masyarakat. Majelis taklim sendiri mempunyai fungsi lembaga dakwah dan lembaga pendidikan keberadaan majelis taklim juga diakui oleh negara melalui Undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional, Peraturan pemerintah nomor 19 tahun 2005 tentang standar nasional pendidikan, Peraturan pemerintah nomor 55 tahun 2007 tentang pendidikan agama dan pendidikan keagamaan, dan Keputusan MA nomor 3 tahun 2006 tentang struktur departemen agama tahun jugaBahaya tertawa berlebihan dalam islamTips menghilangkan galau dalam islamZikir sebelum tidurHukum bacaan alquranDoa agar terlihat cantik setiap hariHukum menuntut ilmu yang salah satunya dilakukan melalui majelis taklim adalah kewajiban. Sebagaimana sabda Rasul“Menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi setiap muslim.” Hadits sahih, diriwayatkan dari beberapa sahabat diantaranya Anas bin Malik, Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Ali bin Abi Thalib, dan Abu Sa’id Al-Khudri Radhiallahu Anhum. Lihat Sahih al-jami 3913. Bagi Anda yang sering menghadiri majelis taklim, maka bergembiralah karena majelis taklim adalah salah satu obat hati dalam islam, dan sebagaimana keutamaan berilmu dalam Islam, ada banyak keutamaan lain menghadiri majelis taklim1. Mendapat pahala“Barang siapa menegakkan shalat subuh berrjamaah di masjid, lalu ia duduk berzikir tadurrusan sampai matahari terbit, lalu menegakkan shalat dua rakaat, maka ia akan meraih pahala haji dan umrah. Rasulullah melanjutkan shalat “sempurna, sempurna, sempurna” HR. At-TarmidziRasulullah SAW bersabda,“Barangsiapa yang pergi ke masjid, tidaklah diinginkannya untuk pergi ke masjid kecuali untuk mempelajari kebaikan atau untuk mengajarkan kebaikan. Maka baginya pahala seperti orang yang melakukan haji dengan sempurna.” 2. Memperoleh ketentraman“Tidaklah suatu kaum berkumpul di suatu masjid daripada masjid-masjid Allah, sedangkan mereka membaca Al-Quran dan mempelajarinya kecuali akan turun kepada mereka ketenteraman, mereka diliputi dengan rahmat, malaikat mengelilingi mereka dan Allah menyebut-nyebut mereka dihadapan makhluk yang ada disisi-Nya.” Mendapatkan ketentraman dengan menuntut ilmu dalam majelis taklim merupakan salah satu cara mendapat jiwa tenang dalam Islam. Orang yang sering mengikuti majelis taklim akan selalu damai dan hidup bahagia menurut Islam. Ia juga lebih sabar dalam menghadapi ٱلَّذِىٓ أَنزَلَ ٱلسَّكِينَةَ فِى قُلُوبِ ٱلْمُؤْمِنِينَ لِيَزْدَادُوٓا۟ إِيمَٰنًا مَّعَ إِيمَٰنِهِمْ ۗ وَلِلَّهِ جُنُودُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ ۚ وَكَانَ ٱللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًاArtinya “Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka yang telah ada. Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana,” Q. S. Al Fath43. Mendapatkan ampunanRasulullah SAW bersabda,“Tidaklah duduk suatu kaum, kemudian mereka berzikir kepada Allah dalam duduknya hingga mereka berdiri, melainkan dikatakan oleh malaikat kepada mereka. Berdirilah kalian, sesungguhnya Allah telah mengampuni dosa-dosa kalian dan keburukan – keburukan kalian pun telah diganti dengan berbagai kebaikan,” 4. Seolah berada di taman surgaIbnul Qayyim RA berkata,“Barangsiapa ingin menempuh taman-taman surga di dunia, hendaklah dia menempati majelis–majelis zikir, karena ia adalah taman- taman surga.”Rasulullah bersabda “Jika kalian melewati taman surga, maka singgahlah dengan hati senang .“ Para sahabat bertanya, ”Apakah taman surga itu?” Beliau menjawab, “Halaqah-halaqah dzikir.” atau halaqah ilmu HR Attirmidzi.5. Mendapat naungan dari malaikatRasulullah SAW bersabda, “Dan sesungguhnya para malaikat akan meletakkan sayap-sayapnya kepada para penuntut ilmu karena ridha atas apa yang telah dilakukan.”Baca jugaDoa agar cepat hamil menurut islamHukum khitbah dalam IslamHukum menghina ulama islam6. Didoakan seluruh mahluk hidupRasulullah SAW bersabda,“Seluruh apa yang ada di langit dan di bumi akan memintakan ampunan kepada seorang ahli ilmu, begitu juga ikan yang ada di tengah lautan. Keutamaan seorang pemilik ilmu dibandingkan orang yang gemar beribadah seperti keutamaan diriku dibanding orang yang paling rendah dari kalian.” Kemudian Rasulullah melanjutkan sesungguhnya Allah dan malaikat-Nya serta penduduk langit dan bumi semut dalam lubangnya, sampai ikan, mereka bersalawat mendoakan kebaikan bagi para pengajar manusia. 7. Menjadi pewaris NabiRasulullah SAW bersabda,“Keutamaan orang alim ahli ibadah adalah seperti keutamaan bulan pada malam purnama atas seluruh bintang–bintang. Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para Nabi. Sesungguhnya para Nabi tidaklah mewariskan dinar maupun dirham, tetapi mereka mewariskan ilmu. Maka barangsiapa yang mau mengambilnya, sesungguhnya dia telah mengambil bagian yang sempurna.” 8. Mendapat kemudahan menuju surgaRasulullah SAW bersabda,“Barangsiapa yang menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah memudahkan untuknya jalan menuju surga.” Mereka yang rajin menuntut ilmu dalam majelis taklim akan mendapatkan kemudahan menuju surga karena ia telah mendapat ilmu tentang bagaimana cara menuju jugaDosa wanita yang paling dibenci AllahDasar hukum IslamSumber syariat Islam9. Setara dengan jihadRasulullah SAW bersabda “Siapa yang keluar rumah untuk menuntut ilmu syar’i, maka ia berjihad di jalan Allah hinggah ia kembali.” HR At Tirmidzi. Menuntut ilmu agama berarti ikut menyebarkan ajaran Islam dan pahalanya sama dengan berjihad di jalan Terlindungi dari azab Allah SWTRasulullah SAW bersabda ”Dunia ini terkutuk dengan segala isinya kecuali dzikrullah taat kepada Allah dan yang serupa itu, berilmu dan penuntut ilmu.” HR At Tirmidzi.11. Menjadi umat terbaikRasulullah SAW bersabda “Yang terbaik di antara kalian adalah yang belajar Alquran dan mengajarkannya.” HR Bukhari.مَا كَانَ لِبَشَرٍ أَن يُؤْتِيَهُ ٱللَّهُ ٱلْكِتَٰبَ وَٱلْحُكْمَ وَٱلنُّبُوَّةَ ثُمَّ يَقُولَ لِلنَّاسِ كُونُوا۟ عِبَادًا لِّى مِن دُونِ ٱللَّهِ وَلَٰكِن كُونُوا۟ رَبَّٰنِيِّۦنَ بِمَا كُنتُمْ تُعَلِّمُونَ ٱلْكِتَٰبَ وَبِمَا كُنتُمْ تَدْرُسُونَArtinya “Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia “Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah”. Akan tetapi dia berkata “Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.” Q. S. Ali Imran 7912. Mendapat perlindungan di akhiratRasulullah bersabda, “Satu diantara tujuh golongan di akherat kelak yang mendapat perlindungan Allah yaitu ,ijtama’a alaihi wa tafarroqo alaihi’, berkumpul karena Allah dan berpisah karena Allah.” HR Bukhari Muslim.13. Berkumpul dengan yang dicintai di akhiratRasulullah SAW bersabda “Seseorang kelak di akhirat dikumpulkan bersama siapa yang dicintai di dunia.” HR Muslim.Itulah beberapa keutamaan menghadiri majelis taklim. Ada banyak ilmu yang bisa dipelajari dalam majelis taklim, misalnya ilmu tasawuf modern, ilmu filsafat Islam, serta Islam dan ilmu pengetahuan lainnya. Majelis taklim memberikan manfaat ilmu dalam pandangan Islam, maka dari itu sangat dianjurkan untuk mengikutinya.
Tarbiyah Tarbiyah berasal dari bahasa Arab yang berarti Pendidikan. Menurut Istilah Tarbiyah adalah menyampaikan sesuatu untuk mencapai kesempurnaan, dimana bentuk penyampaiannya satu dengan yang lain berbeda sesuai tujuan pembentukannya 2. Ta’dib Ta’dib merupakan dari kata addaba-yuaddibu-ta’diban yang berarti sopan santun.
Terjemah yang tepat untuk kata Majelis ÇáÜãóÌúáöÓõ Ì ãóÌóÇáöÓõ al-majlisu j. majaalisuData diambil dari Kamus Al-Munawwir Edisi Indonesia Arab pada halaman 542 Terjemah kurang tepat? atau kesalahan tulisan? silakan laporkan ke [email protected]
  1. А хፌ ιглач
  2. ኣдαጼιኘулаሣ ցሒዣեζխск
  3. ሔаፔι сниւጴб
Penelitian ini membahas bagaimana makna dan struktur teks dalam Kitab Ta’limu Al-Muta’allim Karya Burhanuddin Az-Zarnuji.Dua puluh syair yang dianalisis adalah lima syair kesungguhan, dua syair kontinu dan tidak memaksakan diri sendiri, lima syair cita-cita yang luhur, tujuh syair usaha keras, dan satu sebab-sebab malas.
Lanjut ke konten Seperti yang telah kita ketahui bahwasannya majelis taklim terdiri dari dua akar kata bahasa Arab yaitu majlis yang berarti tempat duduk, tempat siding atau dewan, sedangkan ta’lim berarti pengajaran.[1] Jika kita gabungkan dua kata itu dan mengartikannya secara istilah, maka dapatlah kita simpulkan bahwasannya majelis taklim memiliki arti tempat berkumpulnya seseorang untuk menuntut ilmu khususnya ilmu agama bersifatnonformal jika kita melihat pendidikan yang ada di Indonesia ini. Majelis taklim sudah ada sejak zaman Rasulullah SAW saat dakwah pertamanya yang bertempat di rumah Arqom bin Al-Arqom. Sekarang, penamaan majelis taklim sudahlah tidak asing lagi bagi kita. Pada kesempatan kali ini, penulis akan membahas tentang fungsi, tujuan, kedudukan dan macam-macam majelis taklim. Suatu kegiatan sudah semestinya memiliki hal-hal ini yang akan menjadikan kegiatan terarah dan terorganisir dengan baik.
CwOcFh9.
  • xhb91n2mup.pages.dev/120
  • xhb91n2mup.pages.dev/471
  • xhb91n2mup.pages.dev/228
  • xhb91n2mup.pages.dev/108
  • xhb91n2mup.pages.dev/208
  • xhb91n2mup.pages.dev/369
  • xhb91n2mup.pages.dev/424
  • xhb91n2mup.pages.dev/256
  • tulisan arab majlis ta lim